PENIUP SERULING

Posted by Admin on Friday, December 2, 2005

Aku sudah merasa seperti peniup seruling, yang akan membawa anak-anak keluar dari tempat yang paling jahanam itu. Sekalipun Papa bilang begini, “Kami tetap berdiri di semua keputusanmu. Jika kau ingin jadi pendamping petani, buruh, perempuan dan anak, korban kekerasan. Kau tahu, saya seorang psikiater, para pelacur adalah orang-orang penyandang patologi sosial. Bisa kau bayangkan, para kiwir (pelindung pelacur) akan melecehkanmu, sekalipun kamu di tempat itu sebagai pendamping anak-anak pelacur.”

Apa pun kata Papa tak membuatku ingin mundur dari pekerjaan yang ditawarkan Mas Obet itu. Sejak kecil aku sudah terobsesi dengan cerita seorang peniup seruling, yang bisa membawa anak- anak seluruh kota, dari orangtuanya yang arogan. Oleh karena itu, aku menerima tawaran Mas Obet (aku lulusan FIA UB Oktober 2004), untuk bekerja sebagai pendamping anak-anak pelacur di kompleks pelacuran yang terbesar di negeri ini (Dolly, Surabaya). Mas Obet bilang, “Tujuan pendampingan kita sebatas jangan sampai mereka jadi pelacur anak-anak.”

“Mas, anak-anak dari pelacur-pelacur itu apakah tidak bisa keluar dari lingkaran setan, ibu-ibu mereka, menjadi anak baik-baik! Seharusnya, itu kerja maksimal kita.”

Mas Obet cuma tertawa dan bilang, “Mbak Gita, sebaiknya segera observasi, dengan dua orang teman lain, untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.”

Aku merasa hari itu juga harus menjadi orang yang bisa menyelamatkan sekian puluh anak dari kehidupan yang sangat jahanam ini. Aku mulai dengan observasiku, yang diterima oleh ibu-ibu pelacur ini dengan tanpa semangat. Tetapi, aku bertemu juga dengan seorang perempuan, Tini, namanya, yang sedikit mau bicara denganku. “Mbak tahu, hidup ini harus jalan terus. Siapa sih yang tidak ingin membesarkan anak, bukan di tempat ini. Tapi, aku tidak bisa keluar dari tempat ini. Ketika baru sehari di sini, orang-orang di sini sudah bilang, ’Para pelacur berutang transportasi sampai ke sini, baju, make up dan lain-lainnya’. Aku betul-betul perawan ketika laki-laki yang tidak kukenal itu meniduriku.”

“Mengapa Mbak tidak lari dan kemudian lapor ke polisi. Mereka kan bohong, bilang kepada Mbak, akan dipekerjakan sebagai pelayan restoran.”

Tini tertawa lebar. “Mbak, itu seperti cerita sinetron, nyatanya saya di sini, sudah hampir sepuluh tahun, dengan dua anak. Mbak tahu, anak perempuanku yang terkecil pincang, dia tidak bisa jadi pelacur karena cacat. Apa ada tempat yatim piatu yang bisa saya titipi, agar anak ini bisa sekolah, dan tidak membebani kami.”

“Lantas, bagaimana dengan anakmu yang nomor satu, dia anak yang cantik, apa kamu tidak berpikir untuk masa depannya? Tadi, Sini bilang kepadaku, ingin menjadi guru SD seperti gurunya.”

Tini tersenyum, “Ah, anak-anak tidak mengerti susahnya orangtua, terlampau jauh kalau jadi guru, paling-paling tujuh tahun lagi, dia akan jadi pelacur di tempatku ini. Sekarang saja dia sudah genit, mencuri make up dan lipstikku.”

Aku terkejut, sangat terkejut mendengar ucapan Tini, yang ibu itu. Aku tidak pernah membayangkan hal seperti ini. Papaku seorang psikiater dan Mama seorang akuntan yang hebat. Namun, aku dan adikku hidup dengan norma yang diberikan oleh eyang. (Eyang putri serumah dengan kami sampai beliau meninggal tiga bulan yang lampau). Yah, sepanjang waktu, aku hidup bersama eyang, berkasih sayang, bertengkar, sebel, cinta pada eyang. Di sisi lain, kedua orangtuaku adalah bayang-bayang di senja hari. Sepulang dari pekerjaan, mereka kelihatan lelah, tidak sempat berbicara panjang lebar denganku. Kalau saja aku tidak ketemu Mas Obet di kampus, aku tidak pernah bayangkan kehidupan pelacur lebih dari yang diceritakan eyang. “Pelacur adalah perempuan yang menjual diri karena malas, kejalangannya, nasib sial, atau tekanan ekonomi.”

Aku tidak bisa mendefinisikan observasiku dengan hanya seorang Tini yang punya kiwir (yaitu pelindungnya, suami, makelar) yang mengantarnya ke tempat orang-orang yang membeli, kemudian mengambil bagian dari transaksi tersebut. Di sisi lain, pelacur atau tempatnya ibu-ibu dari anak-anak pelacur itu, tidak semuanya suka aku ajak bicara. Ada beberapa orang yang bilang begini, “Saya mau bicara dengan Mbak, asal dibayar seperti ketika saya meladeni tamu-tamu yang lain. Atau saya bisa meladeni sesama perempuan kok, ha-ha-ha….”

Aku merasa terkejut, tapi aku harus belajar banyak di sini. Yang penting bagaimana anak-anak pelacur itu bisa dekat denganku. Mas Obet bilang, “Jadilah pendengar yang baik.”

Dan aku membekali diriku dengan permen, buku gambar, buku cerita yang pada awalnya tidak diminati oleh anak-anak. Kebanyakan mereka lebih suka main game dengan PC yang disewa di seputar kompleks ini.

Rasanya memang aneh sekali, ketika ibunya bertransaksi dan masuk kamar dengan seseorang yang bukan bapaknya, mereka biasa-biasa saja. Bahkan anak-anak itu sudah bisa bicara dengan kata-kata tentang seks. Tetapi selebihnya, menurut guru SD di kompleks ini, mereka anak-anak biasa, ada yang lucu, malas, pintar, jahat, dan baik hati. Yah, seperti pada umumnya anak SD. Ketika aku tanyakan apakah tidak ada tambahan pelajaran budi pekerti, agar mereka tidak menjadi pelacur seperti orangtuanya. Pak guru Hadi yang sudah bekerja dua puluh tahun di daerah ini, menggeleng-gelengkan kepalanya. “Pihak sekolah sudah mengupayakan, agar mereka tidak menjadi pelacur, setidak-tidaknya pada usia muda. Kita tidak bisa melihatnya secara romantis. Misalnya para pelacur di sini diberi keterampilan menjahit, dan akhirnya menjadi penjahit profesional. Tentu saja ada satu, dua, dari sekian ratus pelacur yang berhasil keluar dari tempat ini, tapi hampir sebagian besar terpaksa meninggalkan tempat ini karena tua, sakit, dan kematian. Aku melihat, ada tiga generasi yang sudah menjadi pelacur di tempat ini. Mulai dari mbahnya, ibunya, dan Mbak pasti kenal, generasi ketiga adalah Tiwi yang bekas murid saya, yang mungkin akan digantikan oleh anaknya.”

Kala pulang, di tempat kosku ini aku merasa resah, tapi toh aku si peniup seruling, yang akan membawa anak-anak keluar dari kompleks ini. Padahal, Mama barusan meneleponku dan bilang, “Gita, maaf aku tadi membuka surat lamaran kerjamu. Profisiat, kamu diterima di perusahaan multinasional itu. Segeralah pulang dan kalau perlu secepatnya ke Jakarta. Mulai hari ini, Mama akan booking-kan tiket pesawat buatmu. Akhirnya, putri sulungku mendapat sesuatu yang pernah kita impikan bersama. Aku, Papa, dan adikmu sangat bahagia. Sebaiknya, kau bilang pada Mas Obet untuk memutuskan hubungan kerja ini. Kami akan membantumu dengan seorang pengacara. Yah, Papamu sudah ingin membelikan kamu sepatu yang bagus, baju, karena kau akan berkantor di sebuah apartemen yang megah, di mana ada banyak perempuan cantik berseliweran. Di antara mereka, ada engkau putri kami.”

Mama yang pendiam tidak pernah bicara sepanjang itu. Aku merasa rikuh. Lantas, sampai siang ini, aku tidak menata koper untuk pulang ke Malang, atau menelepon Mas Obet, untuk menceritakan aku akan menghentikan kegiatanku di sini, terima kasih atas kesempatannya. Entahlah, berat buatku untuk meninggalkan Diti, Sini, dan ibunya, Tini. Walaupun baru seminggu di sini, aku menyukai anak-anak Tini, aku sangat menyukai Diti yang pincang jalannya itu. (Diti, anak perempuan yang baru berusia tujuh tahun, seorang anak yang lucu, bagaimanapun keadaannya). Aku berharap tetap bisa keluar dari tempat ini dengan sekian anak, walaupun menurut beberapa orang, impianku tidak masuk akal. Mengapa tidak? Apakah aku dan anak-anak di tempat pelacuran ini dilarang bermimpi, menjadi orang baik-baik! Kalau mereka besar, menjadi orangtua baik-baik, tanpa dicemoohkan, kalau mereka berada di pasar, di kampungnya, di tempat-tempat ibadah. Sebab, aku tahu perempuan-perempuan yang datang untuk menawarkan daganganya suka mengambil hati Tini, dengan memuji kecantikannya yang masih awet, tapi selepas dari mata Tini, penjaja itu akan berkata dan bergurau jorok dengan temannya, tentang Tini. “Semalam, Tini mendapat kakap mungkin, kok belanjanya boros. Semalam, baru dapat teri mungkin kok belanjanya pelit. Sehingga uang lima ratus dimintanya kembali.”

Aku tidak senang dengan omongan itu. Sekalipun ucapan-ucapan seperti itu sejak awal kedatanganku ke kompleks ini sering aku dengar. Mereka sering mengucapkan kata-kata jorok, yang berbau seks. Bahkan pelacur-pelacur itu maupun orang yang di kompleks ini terbiasa bergurau dengan kalimat jorok berbau seks, setidaknya di depanku. Tini tidak pernah mengucapkan kata-kata jorok itu, yah sekalipun penampilannya sama dengan pelacur-pelacur lain. Semakin jauh aku kenal Tini, aku lupa siapa dia. Apalagi kalau Diti sakit, dia seperti kebanyakan ibu yang ada di seluruh negeri ini. Tini akan membelikan makanan yang sekiranya bisa membangkitkan selera makan anaknya di saat sakit.

Aku semakin akrab dengan anak sekitar sini, mengajaknya bermain teater, menggambar, bernyanyi. Dan mas Obet bilang, “Itu sudah keberhasilan kita, melihat anak-anak di kompleks ini masih bisa menikmati masa anak-anaknya.”

Aku tidak paham, mengapa itu dianggap sebuah sukses. Aku sering bercerita kepada akan-anak di kompleks ini, tentang sebuah tempat yang indah, lebih indah dari tempat ini. Sering aku bilang kepada mereka, kehidupan tidak harus di tempat ini. “Kita seharusnya berada di tempat lain, kalau sudah besar.”

Ada satu hal yang mengejutkan, beberapa ibu mengeluh pada Mas Obet, bahwa aku mengajari anak-anak mereka melawan ibunya. Ini suatu hal yang sangat tidak disukai oleh mereka, seolah aku sudah melempar pengaruh yang paling buruk. Aku tercengang mendengar ucapan mereka, aku cuma kepingin anak-anak bermain dan tidak berperilaku seperti orangtua mereka sekarang, kalau mereka sudah besar. Mas Obet sekali lagi bilang kepadaku, “Mbak Gita, jangan romantis, target kita bukan memberi bimbingan moral, agar mereka menjadi orang yang baik. Tapi mencegah mereka agar tidak menjadi pelacur anak-anak. Kata ibu-ibu, sejak kehadiran Mbak Gita, anak-anak suka tidak percaya pada omongan orangtuanya. Mereka mulai bermimpi untuk tidak menjadi seperti orangtuanya. Beberapa orang bilang, mereka akan menjadi orang baik-baik seperti sampeyan. Rupanya Mbak Gita sudah terlampau jauh dari target kita. Kalau mereka tidak suka dengan pendampingan ini, kita akan diusir, program kita semakin macet pendanaannya. Ini tidak akan mengenakkan kita semua kan.”

Aku merasa tidak paham lagi dengan Obet dan kawan-kawannya. Aku tidak paham, bagaimana dia menggarisbawahi pekerjaannya, hanya sampai di sini. Dan rasanya, dia tidak mencegah ketika ada satu, dua, anak remaja sudah buka praktik sebagai pelacur. Obet berkata, “Kita cuma bisa mencegah, kalau, mereka sudah jadi pelacur, ada banyak masalah. Kiwirnya, germo, pelanggannya dan kita harus siap dipukul kalau terlampau dekat dengan ikatan itu.”

Diam-diam aku tidak sepakat, dan diam-diam aku cuma menganggap suatu hari kelak, aku akan membawa anak-anak keluar dari tempat ini. Namun, satu per satu mereka tidak muncul untuk bermain, menggambar, dan bernyanyi kepadaku. Diti yang bilang, ibu-ibu mereka melarang untuk belajar denganku. Karena aku cuma gadis kota yang kaya, tidak akan paham bagaimana seharusnya mencari uang.

“Kalau Ibu masih membiarkan saya bersama Mbak, karena saya pincang dan akan sulit laku sebagai pelacur.”

Aku merasa ada kemarahan yang luar biasa dalam diriku. Tapi memang, anak-anak bimbinganku, semakin lama semakin sedikit. Akhirnya, aku mengerti ketika Obet berkata, “Mbak Gita harus menghentikan proyek itu sampai di sini. Saya bisa bantu Mbak Gita kalau ingin bekerja di tempat bimbingan lain, misalnya bimbingan petani.”

Malam itu, aku merasa diusir. Ketika aku harus betul-betul keluar dari pekerjaan ini, aku mencoba membicarakan hal itu pada Tini. “Yah, hidup kami memang sudah terbelit oleh utang, sampai hari ini utang saya terhadap orang-orang itu semakin banyak. Tak mungkin semudah itu keluar dari tempat ini, seandainya saya mau. Mereka akan menghalang-halangi saya, dengan cara apa pun. Kalau tidak bisa dengan kekerasan, mereka akan mengguna-gunai saya, sampai saya sakit dan mati. Kalau utang saya belum juga terbayar sampai saya tua, dan tidak laku lagi, Sini mungkin yang akan menggantikan saya,” katanya sambil menyedot rokoknya.

“Diti memang merepotkan kami, karena dia pincang dan sulit jadi pelacur. Oleh karena itu, apakah Mbak bisa menolong mencarikan penitipan anak cacat yang tidak membayar.”

Aku mungkin cuma orang yang tidak paham apa pun tentang hidup ini! Ketika aku keluar dari kompleks ini, bersama Diti yang pincang, anak-anak binaanku ikut menangis, kala melihatku, menangis!

Di Jakarta, aku mendaftar sebagai orang kantoran. Di apartemen yang megah itu (di daerah Kuningan) aku diterima! Mama mungkin benar, aku sebaiknya berada di sini saja, di antara perempuan yang terhormat, berbau wangi, berbaju seragam cantik!

Malang, 2005
More aboutPENIUP SERULING

BAJU

Posted by Admin on Wednesday, September 1, 2004

“Saya kira ini kejahatan yang luar bisa, bukan saja datang dari pihak Hastinapura, juga dari suami-suamiku, yang dengan gegabah mempertaruhkan diriku sebagai taruhan di meja judi. Ini penghinaan yang luar bisa, aku bukan budak atau selir! Aku permaisuri yang anak raja. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa mencampakkan harga diriku di bawah budak-budak istana? Padahal mereka satria unggulan, karena itu aku memilihnya!”

Aku memilihnya sebagai suamiku dan sekarang yang terlihat adalah ketika seluruh bajuku ditanggalkan oleh Dursosono, suami-suamiku cuma diam-diam saja. Apakah harga diri perempuan yang permaisuri ini di bawah norma hukumnya? Kalau aku tanyakan peristiwa ini, mereka pasti akan menjawab: seorang kesatria harus menepati janjinya?

“Satria-satriaku, tahukah kamu waktu itu, aku lebih tidak menyukaimu daripada Dursosono yang memang tokoh jahat (Krisna tahu karena keperempuananku Krisna tidak membiarkan aku telanjang di muka penjahat-penjahat itu).”

Air mata yang ada di sudut mata kangmas Yudistira atau kemarahan yang ditahan-tahan oleh Bima tidak bisa menolongku pada saat itu. Arjuna lelaki yang peka (lelaki yang paling kucintai) tidak berbuat apa pun dengan anak panahnya. Si kembar Nakula dan Sadewa cuma bisa menangis dalam hatinya, Destarata tidak juga berbuat banyak ketika kusimpuhkan diriku untuk meminta sikapnya. Juga eyang Bisma, paman Widuri yang terkenal bijak, juga tidak berbuat apa-apa. Dalam hal ini mereka menganggap semuanya harus mengikuti aturan main hukum yang berlaku!

Aku menangis, sakit hati, bukan saja kepada Dursosono tetapi juga kepada suami-suamiku. Ini bukan cinta kalau mereka tidak berbuat apa pun kepada kekasihnya. Tiba-tiba aku merasa iri kepada Shinta yang direbut kembali oleh Rama dari Rahwana dengan segala perjuangan dan penderitaannya, sementara diriku mereka biarkan begitu saja. Kalau aku tidak ditolong oleh para Dewa, sudah dari tadi seluruh tubuhku ditonton oleh mereka, dilecehkan dengan nafsu hewaninya di muka suami-suamiku.

Seharusnya suamiku tidak perlu menepati janji akibat dari kecurangan dalam perjudian ini. Di kaputren, para dayang sudah berbisik bahwa permainan dadu itu sudah dibuat sedemikian rupa sehingga para Pandawa pasti kalah.

Aku sebetulnya sudah melarangnya. Tapi, suami-suamiku yang perkasa tidak memedulikan naluri seorang istri. Mereka bilang, perjudian ini cuma menghormati tuan rumah yang sudah mengundang kita. Kalau kalah, mereka berjanji akan berhenti sebelum sepuluh kuda dan kereta perang dipertaruhkan.

Menurut pendapat mereka, dengan permainan ini mereka berharap akan terjadi sebuah perjanjian bahwa Hastinapura akan dikembalikan kepada mereka. Dengan begitu, mereka akan terhindar dari perang saudara.

Aku tidak percaya, tapi suami-suamiku bilang kalau perempuan selalu berbicara dengan perasaan tidak dengan otak. “Bersenang-senanglah di kaputren melihat taman yang indah yang akan menjadi milik kita kembali Dinda!”

Aku lupa siapa yang bilang begitu. Suami-suamiku memang memiliki satu pemikiran sekalipun watak mereka berbeda.

Duh Gusti………., mereka membuka bajuku, sepertinya aku ini budak atau pelacur. Tidak pernah aku diperlakukan seperti ini. Tubuh perempuanku adalah ekspresi dari seluruh jiwa ragaku. Aku selalu menuntut mereka memperlakukan aku dengan perasaan yang saling menghormati ketika kita bercinta. Suami-suamiku kuajari menyentuh dengan keindahan dan saling menghormati. Begitulah yang kita lakukan bertahun-tahun. Tapi, sekarang mereka tidak berbuat apa pun. Sungguh menjijikkan ketika kulihat suamiku cuma menunduk dan diam-diam saja (apakah mereka kali ini begitu bodoh, tidak melihat kecurangan itu?).

Pada saat itu aku memohon pada Dewata untuk mati saja daripada dihina seperti ini. Di mana orang-orang bersorak-sorai memberi semangat kepada Dursosono dengan menari-nari. Nampak olehku nafsu liar yang luar biasa dari mereka. Padahal mereka memiliki seorang perempuan juga, yaitu istri, ibu-ibu mereka, saudara perempuan, dan anak-anak mereka. Tapi, bagaimana aku bisa menuntut seperti angan-anganku ini. Aku sama sekali tidak mengerti ketika melihat Yudistira yang bijak cuma bisa menundukkan kepalanya. Padahal perempuan selalu menganggap suamilah yang akan melindungi dia melawan musuh-musuhnya.

Begitulah, aku sekian lama bermimpi suami-suamiku satria yang gagah perkasa akan menumbangkan darah demi melindungi istrinya. Tapi, kenyatannya mereka cuma diam-diam saja. Aku tidak tahu apakah dalam kejadian ini aku masih hidup atau sudah mati? Yang jelas aku mengatupkan bibirku karena aku tidak ingin sentuhan-sentuhan yang menjijikkan itu yang akan segera menikmati apa yang ada dalam tubuhku.

SEJAK kecil ibu sering berkata, “Hormatilah tubuhmu sendiri.” Oleh karena itu, sejak kecil aku mesti memperlakukan setiap bagian tubuhku dengan rasa sayang dan hormat. Dan sebagai permaisuri Hastinapura aku mengajari perempuan di sekelilingku, untuk mengekspresikan dengan hormat, dan indah, tubuhnya sendiri maupun tubuh suami mereka.

Dursosono masih menarik bajuku, dan atas pertolongan Krisna, baju dan kainku tidak pernah terbuka. Padahal aku tidak mempunyai kemampuan untuk menjaganya pada waktu itu.

Yang ada pada waktu itu, rasa sakit yang luar biasa di seluruh urat nadiku. Kalau saja Dewata pada waktu itu berdiri di mukaku yang kumohonkan adalah kematian! Rasanya aku sudah mempunyai firasat dan mimpiku yang berturut-turut bahkan sempat aku ceritakan pada suami-suamiku bahwa aku tidur dengan telanjang dan diperkosa oleh penjahat-penjahat Hastinapura.

Suami-suamiku dengan santun mendengarkan ceritaku, tapi mereka tidak mempercayai mimpiku. Undangan dari Hastinapura mengharu-birukan perasaan mereka dan setiap kecemasanku tidak pernah ditanggapi oleh mereka. Bahkan mereka dengan asyiknya berlatih main dadu.

Sesungguhnya, pada saat itu aku ingin sekali bumi ini terbelah dan aku masuk ke dalamnya. Namun, ketika mendengar sorak-sorai mereka dengan nafsu hewaninya dan ketidakberdayaan suami-suamiku ketika Dursosono membuka bajuku, kemarahan meledak di hatiku. Aku tiba-tiba ingin menyelesaikan masalah ini dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya, aku mencintai suami-suamiku dan inikah balasan mereka? Pernikahan kami yang bahagia berakhir dengan kepicikan mereka. Suami-suamiku seperti tidak menghargai lagi ekspresi tubuhku dan keberadaanku di tengah-tengah mereka.

Aku tidak tahu bagaimana mungkin suami-suamiku bisa terjebak dengan peristiwa ini. Dayang-dayangku saja tidak punya suami yang kelakuannya begitu hina-dina seperti ini. Bisakah kau bayangkan? Aku Drupadi dilahirkan dengan puja-pujian orangtuaku kepada Dewa Shiva selama beberapa tahun lamanya. Sekalipun kerajaan orangtuaku tidak sebesar Hastinapura, aku Drupadi yang diberi kebebasan oleh Romo untuk memilih sendiri suami-suami lewat sayembara.

Kupilih satria yang berbaju brahmana. Aku tidak pernah tahu kalau kangmas Arjuna yang memenangkan lomba membengkokkan busur itu adalah putra Kunti, sebuah kerajaan yang paling adikuasa. Jadi jelas aku tidak memilih suami-suamiku karena dia keturunan raja-raja Hastinapura. Bersama suami-suamiku aku tinggal di hutan, (ketika mereka diasingkan kami masih pengantin baru). Apakah ini bukan sebuah cinta yang tulus? Dan pada saat ini mereka menafikan cintaku, penderitaanku, dan mimpi- mimpi indahku. Menjadi bayang-bayang suram yang menaungi diriku.

Aku merasa pusing dan muntah-muntah. Sungguh aku tidak bisa menangis. Kupejamkan mataku hingga tidak kulihat kenyataan yang begitu dahsyat di mana suami-suamiku cuma pandai menundukkan kepala saja di tengah keliaran nafsu para Kurawa yang semakin kulihat sebagai iblis-iblis. Untuk berapa saat aku pingsan. Aku menyesal ketika aku terbangun dan melihat Dursosono masih mencoba menarik-narik busanaku sedangkan suamiku dan sesepuh Hastinapura sudah kehilangan akal untuk menghentikan kejadian ini.

Tiba-tiba, kemarahan membuat aku berteriak-teriak, “Destarata ambillah sikapmu, engkau tetap ayahanda dari mereka.” Aku lihat Destarata menjadi gemetar dan terduduk di kursinya. Eyang Bisma dan paman Widuri seperti blingsatan.

Kukatakan sekali lagi, “Baginda raja, tidak adakah lagi kebenaran di istana Hastinapura ini?” Aku lihat Destarata seperti dihantam dan akhirnya Widuri berkata, “Atas nama raja hentikan semua itu Baginda!”

Para Kurawa seperti mengaum.

Aku merasa bertarung sendirian di sepanjang waktu itu. Tiba-tiba air mataku jadi kering, kulihat Destarata yang tangannya terluka. Aku mencoba menahan seluruh kemarahan dan rasa benciku ketika Destarata memintaku membalut tangannya yang terluka.

Akhirnya Destarata berkata, “Mintalah apa saja kepadaku Drupadi, aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Aku berkata, “Bebaskan Bima dan saudara-saudaranya.” Dan Destarata berkata kembali, “Kukembalikan Pandawa kepada kau sebagai suami-suamimu dan ini adalah anugerah dari raja Hastinapura.”

Kemarahan semakin meledak-ledak di dalam hatiku. Kurasakan penghinaan itu sampai ke urat nadiku. Aku kira ini bukan anugerah dari Destarata. Kurebut mimpiku sebagai perempuan.

Apakah suami-suamiku dengan caranya masih bisa disebut sebagai satria? Sementara itu, di sisi lain, aku masih menjadi bagian dari mereka, tak secuil pun yang akan menjadi milikku?

Jadi, setelah aku berikan seluruh jiwa dan ragaku kepada Pandawa tanpa seculi pun yang jadi milikku, aku jadi bertanya-tanya, “Siapakah diriku?”

Lantas “Aku bersumpah tidak akan menggulung rambutku sebelum keramas dengan darahnya Dursosono.”

Halilintar saling sambar-menyambar, Dewata menyaksikan sumpahku.

Para Kurawa dan suami-suamiku terpana! *

Malang, 1 September 2004
More aboutBAJU